Chicha Koeswoyo 

Caleg DPR RI PDI Perjuangan

Dapil Jakarta Timur Nomor Urut 4

Dulu Penyanyi Anak, Kini Peduli Anak

Email: una@chichakoeswoyo.com

Jl. Pusdiklat Depnaker No. RT 014/06 Makassar, Kota Jakarta Timur Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Warung Chicha

© 2018  Chicha Koeswoyo Personal Website By Kawan Chicha

  • Instagram - White Circle
  • Facebook - White Circle
  • Twitter - White Circle
  • YouTube - White Circle
  • Google+ - White Circle
  • Pinterest - White Circle

Memahami Passion Anak

Kawan Chicha,


Beberapa minggu lalu di FB Page saya, ada kawan sharing pengalaman, merasa kesulitan mengetahui keinginan dan hobi anaknya yang usia kelas 1 SD. Sesaat ingin jadi model, sesaat ingin jadi suster, lucunya, bahkan suatu kali pengen jadi superhero. Anak kita emang keren dan lucu-lucu ya? Kita mesti bersyukur sama Allah, karena Allah telah mengisi hidup kita dengan keunikan luar biasa ini.


Nah, saya coba membahas ini seiring pengalaman dan bertemu banyak kasus serupa ya.

Sebelumnya, kita mesti bedakan dulu antara keinginan, hobi, dan ini yang penting, PASSION anak kita. Sehingga ke depannya kita dengan mudah bisa mengidentifikasinya.

Derajat ketiga hal ini sangat berbeda.


  1. Keinginan. Keinginan itu sifatnya sesaat. Hasrat yang dipengaruhi oleh situasi. Misal, saat anak kita melihat temannya makan permen, dia menginginkan permen. Saat temannya manggung di catwalk dalam perlombaan modeling, dia pengen jadi model. Saat habis nonton superhero, bahkan dia pengen jadi superhero.

  2. Hobi. Ini lebih intens dari sekadar keinginan. Hobi ini terkait kebiasaan yang berulang. Hobi sifatnya dijalankan lebih untuk menyenangkan diri sendiri. Misal, hobi menyanyi, ya sebatas having fun saja. Hobi olah raga, ya sebatas untuk kebugaran diri saja. Hobi melukis, ya sebatas untuk mengekspresikan diri saja. Untuk mengidentifikasi apakah sesuatu itu hobi atau passion, bisa diuji dengan: Bila hobi ini tidak tersalurkan, "efeknya biasa-biasa saja. Tidak ada pengaruh signifikan."

  3. Passion. Ini keinginan dengan derajat tertinggi, dibanding 2 di atas. Passion adalah minat dengan gairah yang terus menerus diperjuangkan. Sifatnya tidak hanya berimplikasi terhadap diri sendiri, tapi juga pada orang lain. Passion, selain sebagai ekspresi diri, juga berhubungan dengan pengakuan diri, kompetensi diri, dan kompetisi dengan orang lain.


Anak bukanlah pendengar yg baik. Tapi mereka adalah peniru yang hebat.

Misal, kalau kita ambil contoh menyanyi. Kalo sekadar hobi, menyanyi adalah ekspresi diri semata. Bila tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya, tidak punya efek apa-apa. Sementara bila menyanyi adalah passion, maka menyanyi menjadi sebuah bagian dari kompetensi diri. Ia akan merasa tertekan bila tidak mendapatkan ruang untuk mengekspresikan dirinya. Passion berkaitan dengan upaya untuk terus mengasah kompetensinya. Misal dengan kursus, lalu melibatkan dirinya dalam berbagai kompetensi, bahkan memperjuangkan dirinya hingga rekaman.


Nah, passion inilah yang potensial terkait dengan profesinya ke depan.

Dengan mengidentifikasi perbedaan di atas, kita sekarang begitu mudah, apakah kasus di awal tulisan ini, masuk ke dalam keinginan sesaat, hobi, atau passion anak.

Lalu, kenapa keinginan anak saya terus berubah-ubah? Kadang ingin ini, kadang ingin itu?


Pertama, seperti sudah dibahas tadi. Keinginan memang sifatnya sesaat, berdasarkan keterpengaruhan dari luar. Apakah dipengaruhi temannya, dipengaruhi film yang ditontonnya, dsb.


Apalagi, sugestivitas (tingkat keterpengaruhan) anak itu jauh lebih besar dari orang tua. Usia 0-3 tahun, anak hidup 100% dalam pikiran bawah sadarnya. Rasionalitasnya belum bekerja. Misal, api pun bisa dipeganya, tanpa ada rasionalitas bahwa api itu panas dan berbahaya. Anak berlaku dengan instingnya.


3-10 tahun, pengalaman mengaktivasi rasionalitasnya. Pikirannya mulai jalan. Bahwa karena megang api itu panas, maka ia hindari itu. Anak mulai tahu mana yang boleh dilakukan, dan mana yang tidak. Tapi dominasi hidupnya tetap masih bertumpu pada pikiran bawah sadarnya. Tingkat keterpengaruhannya masih tinggi. Nggak heran, bahkan soal keinginan dan hobi, sangat bisa berubah-ubah.


Memasuki usia remaja, rasionalitasnya makin tinggi. Seiring knowledge yang diberikan di sekolah dan rumah. Demikian juga, makin dewasa, rasionlitas makin bekerja. Kematangan manusia mengidentifikasi diri pun makin kuat.


Nah, Kawan Chicha,


Di artikel " MENJADI ANAK-ANAK KITA" saya sudah membahas tipikal anak, apakah tipe anak kita Visual (kekuatannya di aspek penglihatan), Auditori (ketertarikannya di suara), Kinestetik (kekuatannya di aspek gerak/sentuhan), Olfactory (penciuman) atau Gestatory (Pencerapan). Keinginan, hobi dan passion anak juga sangat berkaitan dengan tipikal ini.

Anak Visual mungkin saja sangat menyukai melukis, fotografi, film, desain, animasi dsb. Anak Auditori bisa jadi dia suka menyanyi, membuat musik, jadi sound engineer, dll. Anak Kinestetik bisa jadi dia tertarik dunia modeling, dance, olah raga, dll. Anak Olfactory dia bisa jadi sangat menyukai dunia yang terkait dengan aroma. Anak gestatori bisa jadi passionnya di dunia kuliner dll.


Perangkat ini bisa dijadikan alat untuk mengidentifikasi passion anak-anak. Sehingga, kita sebagai orang tua mesti memahami, bahwa passion itu tidak bisa dipaksakan oleh orang tua. Orang tua mesti berfungsi sebagai pendukung, fasilitator, mentor, atau lebih bagus lagi kalo mampu berfungsi sebagai "coach".


Fasilitator artinya berupaya memfasilitasi semua kebutuhannya. Mentor artinya senantiasa menjaga anak kita untuk tetap berada pada track-nya. Coach, dalam arti menjadi problem solver, atau solusi atas semua problem anak kita, dan berbasis pada "kebutuhan" anak kita. Metode Coaching-nya, sebaiknya diarahkan untuk menempatkan "Si Anaklah Penemu Solusi atas Problemnya Sendiri".


Mesti diingat, bahwa "passion" itu beda dengan hobi. Kalo hobi implikasinya sekedar untuk menyenangkan diri, berkespresi, maka "passion" ada nilai pengakuan diri. Ini mesti diwaspadai dengan bijak, karena implikasinya, anak bisa "tertekan" ketika passionnya tidak tersalurkan. Termasuk bila ditentang oleh orangtuanya.


Mengapa saya mesti tekankan, bahwa fungsi orang tua sebaiknya sebagai pendukung, fasilitator, mentor bahkan coach, demi berjalan baiknya passion anak? Karena banyak sekali kasus, seperti yang diungkap teman psikolog dan hipnoterapis anak, intervensi orang tua besar sekali dalam menentukan peminatan anak. Di dalam konsultasi psikologi dan hipnoterapi, hampir 70% ditemui, intervensi orang tua begitu besar.


Kerap, anak menjadi moda "eksperimen" yang peminatannya ditentukan orang tua. Mesti ikut kursus ini, kurusus itu, lomba ini, lomba itu, masuk jurusan ini, jurusan itu. Padahal, bila semua itu bertolak belakang dengan passion dan karakter anak, ini menjadi bom waktu bagi mental anak kita.


Demikian, Kawan Chicha, semoga tulisan ini bermanfaat, sebagai bahan kita, termasuk saya di dalamnya, berefleksi, untuk selalu sadar, bahwa fungsi kita bagi anak adalah sebagai fasilitator, mentor, dan coach, yang membantu anak mencapai goal dalam mengaktualisasikan passionnya.


***

80 tampilan