Membingkai Ulang Emosi Negatif Anak

Diperbarui: 8 Nov 2018



Kawan Chicha,


Setiap orang, termasuk anak kita, hidup dengan persepsinya masing-masing. Dengan pemaknaan dirinya atas suatu peristiwa.


Bila peristiwanya menyenangkan, dan hasil pemaknaan anak terhadap peristiwa itu menyenangkan juga, maka efek yang terjadi, anak kita riang, ceria, bahagia. Ini dengan mudah bisa kita lihat dari wajahnya yang penuh semangat, sumringah, dan full senyum.

Berbeda halnya dengan momen ketika anak kita mengalami hal kurang menyenangkan, saat persepsinya memahami momen itu dengan negatif juga, maka hasilnya, anak menjadi sedih, muka ditekuk, cemberut dan jenis emosi negatif lainnya. Secara fisik pun bisa dengan mudah kita lihat.


Nah, bahwa persepsi itu begitu unik? Nilainya kadang selaras dengan peristiwanya, tapi sering juga malah berbenturan, menciptakan salah persepsi yang memengaruhi nilai emosi seseorang.


Misalnya: Terhadap peristiwa menyenangkan, kadang emosi bahkan bisa salah persepsi, menerjemahkannya sebagai hal negatif. Contoh, saat ada orang memberi senyum, bisa saja persepsi malah menterjemahkannya sebagi "ledekan" atau "merendahkan". Maka efeknya jelas menjadi lain dengan arti sebenarnya senyum itu sendiri.

Begitu juga sebaliknya, terhadap peristiwa buruk, persepsi kadang memberi nilai tertentu yang positif. Misal, seseorang yang sedang kehilangan uang, tiba-tiba persepsinya memaknai, bahwa itu artinya pelajaran gratis dari Tuhan buat dirinya lebih bijak lagi. Efek yang ditimbulkan pun malah positif.


Unik kan, emosi kita, termasuk anak-anak kita ini?


Nah, melihat fenomena seperti itu, artinya, kita bisa lho men-set diri kita, termasuk anak kita, untuk selalu menghadirkan persepsi positif terhadap peristiwa apapun yang menyentuhnya. Artinya lagi, emosi kita termasuk anak-anak kita pun bisa tetap dijaga positif.


Emosi positif itu penting. Karena efeknya bukan hanya pada munculnya pikiran yang nyaman dan bahagia, tapi tubuh pun terasa rileks dan sehat.

Kawan Chicha. Salah satu cara menjaga persepsi dan emosi tetap positif adalah, "Membingkai Ulang Makna atas sebuah Peristiwa". Terutama peristiwa buruk, agar tetap bermakna positif.


Kalau dalam bahasa agama, mengambil hikmah positif atas apapun kejadian yang menimpa kita. Kalau dalam bahasa ahli neuro linguistik programing (NLP), melakukan "reframing".


Nah, saya punya 2 trik untuk Kawan Chicha, bagaimana membingkai ulang makna atas suatu peristiwa negatif, agar nilainya jadi positif. Trik ini bisa dilakukan sambil bermain sama anak-anak. Jadi tidak dengan bentuk nasehat agar anak-anak kita baik-baik saja, tapi dengan permainan. Nanti, anak sendiri yang akan memaknainya, sekaligus secara tidak langsung merasakan emosi positifnya.


Berikut triknya:


TRIK 1: Minta anak menulis 3 hal negatif yang dirasakannya, atas peristiwa negatif yang dialaminya itu. Setelahnya, minta anak menuliskan 5-10 hal baik/positif, dari peristiwa yang dialaminya itu.

Misal, anak bete karena mendapat nilai Matematika rendah. Maka, minta anak menuliskan 3 hal buruk akibatnya. Lalu minta anak menulis sendiri 5-10 hikmah baik atas nilai matematika yang rendah itu.

Contoh:

3 Hal buruk:

  1. Aku malu sama teman-teman

  2. Aku malu sama Pak Guru

  3. Aku malu sama Mama dan Papa

6 Hal baik:

  1. Aku harus belajar lebih giat lagi

  2. Aku harus fokus saat Pak Guru mengajar

  3. Aku mesti banyak berlatih

  4. Aku harus kuat mental

  5. Aku mesti teliti

  6. Aku harus menyenangi Matematika

Secara otomatis, nilai emosi anak akan berubah, karena anak mengumpulkan jumlah hikmah positif jauh lebih besar dari jumlah efek negatif yang dia kumpulkan. Emosi negatif anak pun otomatis terhancurkan.


TRIK 2: Minta anak, menuliskan kepanjangan dari perasaan negatifnya, saat anak sedang merasa tidak nyaman. Syaratnya, anak harus menulis kepanjangan dari "kata" itu secara positif.

Misal, perasaan negatifnya adalah "BETE". Maka minta anak munuliskan kepanjangan dari kata "BETE" tersebut, tapi nilainya harus positif. Bisa juga Ibu atau Bapak yang menuliskan kepanjangannya itu. Contoh kasus menulis kepanjangan dari kata BETE:


B = Bunda itu

E = Enak sekali dipandang

T = Terutama senyumnya

E = Elok dan indah


Otomatis, kata "BETE" pun jadi berubah nilai emosinya. Bahkan anak malah mungkin keasyikan cari lagi kepanjangan-kepanjangan positifnya, dari momen-momen yang awalnya dianggap buruk itu.


Selamat mencoba ya.


***

0 tampilan

Chicha Koeswoyo 

Caleg DPR RI PDI Perjuangan

Dapil Jakarta Timur Nomor Urut 4

Dulu Penyanyi Anak, Kini Peduli Anak

Email: una@chichakoeswoyo.com

Jl. Pusdiklat Depnaker No. RT 014/06 Makassar, Kota Jakarta Timur Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Warung Chicha

© 2018  Chicha Koeswoyo Personal Website By Kawan Chicha

  • Instagram - White Circle
  • Facebook - White Circle
  • Twitter - White Circle
  • YouTube - White Circle
  • Google+ - White Circle
  • Pinterest - White Circle