Papaku Pahlawanku




Kalau ada orang bertanya, siapakah tokoh yang paling saya idolakan di dunia ini? Tanpa ragu-ragu, saya akan menjawab, “Papa.”


Mungkin kalian tau, Papaku namanya Nomo Koeswoyo. Salah seorang anggota Koes Bersaudara. Sebuah band yang berkibar di era taun 60-an. Usia Papa, Januari nanti Papa akan genap 80 tahun. Badannya masih sehat dan semangat hidupnya tetap tinggi. Beliau tinggal di Magelang, Jawa Tengah. Papa lebih suka tinggal di sana daripada di Jakarta.


Kenapa saya sangat mengidolakan Papa? Rasanya tidak ada ruang seluas apapun yang mampu menampung cerita saya tentang seorang Nomo Koeswoyo. Papa itu orangnya jahil, berani, baik hati dan penolong. Di luar terlihat keras dan kalau bicara selalu blak-blakan tanpa tedeng aling-aling. Namun sebenarnya hatinya sangat lembut dan mudah tersentuh. Setiap kali ada teman yang sedang dalam kesusahan, Papa tanpa ragu menyerahkan seluruh uangnya sehingga dia sendiri tidak memiliki uang sama sekali. Dia sering berkata, “Uang itu bisa dicari tapi kita tidak boleh melihat teman susah tanpa menolongnya.”


Papa juga sangat solider terhadap teman dan saudara-saudaranya. Pasti kalian pernah mendengar bahwa pada tanggal 29 Juni, 1965, Koes Bersaudara dijebloskan ke penjara Glodok oleh rezim orde lama. Alasannya karena Koes Bersaudara dianggap memainkan lagu-lagu ngak-ngik-ngok alias kebarat-baratan, yang diharamkan oleh penguasa saat itu.


Saat terjadi penangkapan terhadap anggota group ini, Papa sedang tidak berada di rumah sehingga dia lolos dari penangkapan polisi. Ketiga saudaranya, Om Ton, Om Yok dan Om Yon meringkuk di dalam bui. Sementara Papa Alhamdulillah tetap bisa menikmati udara bebas. Namun apa yang terjadi? Bukannya bersembunyi, Papa malahan mendatangi kantor polisi dan meminta ikut ditahan sebagai wujud solidaritas kepada saudara-saudaranya. Mereka mendekam di penjara selama 3 bulan sampai akhirnya dibebaskan tepat sehari sebelum Gerakan 30 September, PKI.


Tahun 1969, Papa keluar dari Koes Bersaudara. Dan itu adalah masa-masa yang sulit buat keluarga kami. Papa sempat menjadi supir bemo dengan Mama sebagai keneknya. Kalau Mama sedang berhalangan, jabatan kenek digantikan oleh Om Oki, adik kandung Mama. Trayek yang dijalani adalah Blok M – Pasar Senen. Om Oki waktu itu masih berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Indonesia yang terletak di Salemba. Setiap kali bemo Papa melewati kampusnya, Om Oki panik karena takut dilihat oleh teman-temannya. Malu dong, masak mahasiswa Fakultas Hukum jadi kenek Bemo. Hihihihihi….


“Mas Nom. Jangan ngetem di depan kampus, ya. Malu kalau ada temen yang ngeliat,” kata Om Oki.


Memang dasar Papa orangnya jahil banget, bukannya tancap gas, beliau malah ngetem tepat di depan gerbang kampus. Tentu saja Om Oki panik bukan main. Papa cuma tersenyum-senyum melihat kelakuan adik iparnya itu.


“Ayo, Ki, teriak yang keras biar yang mau ke Senen bisa ikut kita,” kata Papa lagi dengan senyum jahilnya.


“Jangan gitu dong, Mas Nom. Ayo jalan. Kalo mau ngetem di tempat lain aja. Jangan di sini!” sahut Om Oki tambah panik.


Karena tidak tega, Papa menjalankan bemonya tanpa sempat mendapat tambahan penumpang. Di sepanjang jalan dia menasihati adik iparnya, “Sekarang kita pergi tapi besok saya mau ngetem di sini.”


“Jangan dong, Mas Nom. Malu-maluin banget.”


“Kamu gak boleh malu. Jadi kenek bemo itu pekerjaan halal. Kalo kita mencuri atau merampok, nah, itu baru kamu boleh malu,” kata Papa lagi.


Pernah juga ada kejadian saat saya masih bayi. Cerita ini saya dapatkan langsung dari Papa. Ceritanya begini; Mama bilang ke Papa bahwa saya perlu dikasih pisang. Sementara Papa sedang tidak punya uang sama sekali. Situasi menjadi makin sulit ketika Mama memaksa Papa.


“Pokoknya kamu harus ke luar rumah sekarang juga. Anak kita butuh pisang dan kamu harus mendapatkannya, terserah caranya bagaimana!” kata Mama dengan suara tegas.


Dengan langkah gontai, Papa pergi menuju ke pasar. Dengan pakaian lusuh dan tanpa uang, Papa mengamati semua orang yang sedang berjalan hilir mudik di sekitarnya. Sampai akhirnya Papa melihat seorang keturunan chinese keluar dari toko membawa barang yang baru dibelinya. Dengan ragu-ragu, Papa menghampiri orang tersebut.


“Koh, pinjem, duit dong! Anak gue yang masih bayi butuh pisang tapi gue gak punya duit,” kata Papa.


Orang tersebut memandang Papa dengan paras curiga tapi dia tidak mengatakan apa-apa.


“Heh! Kok, diem aja? Ntar kalo gue udah punya duit, gue balikin uang, lo.”


Orang itu masih terdiam karena bingung harus bersikap bagaimana terhadap orang dekil yang ujug-ujug menghadang jalannya dan mau pinjem duit.


Melihat orang tersebut tidak memberikan reaksi, Papa mencolek pinggang orang dengan telunjuknya sambil berkata, “Pelit banget! Gue ganti uang lo kalo udah punya duit. Gue janji!!”


Mungkin karena merasa terancam dan mengira ujung jari Papa adalah senjata tajam, orang tersebut membuka dompetnya, mengambil uang dan memberikannya pada Papa. Takut masalah akan semakin panjang Si engkoh langsung lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu.


“Hihihihihi…. Ih Papa jahat amat?” Saya ngakak mendengar cerita Papa. Terbayang bagaimana takutnya Si Engkoh melihat penampilan Papa yang seperti preman ini.


“Abis Papa bingung, Nduk. Kamu perlu pisang sementara Papa nggak punya duit. Kalau Papa pulang dengan tangan hampa, pasti Mama kamu ngamuk,” kata Papa sambil mengunyeng-ngunyeng kepala saya.


“Berapa uang yang dikasih orang itu?” tanya saya penasaran.


“Totalnya Rp 4000. Padahal harga sebuah motor Vespa waktu itu itu cuma Rp 12.000.”


“Ya, ampun. Banyak amat? Terus akhirnya Papa ganti nggak uangnya?” tanya saya lagi.


“Waktu Papa udah punya uang, Papa pergi ke tempat kejadian, mencari Si Engkoh untuk mengganti uangnya.”


“Terus akhirnya ketemu nggak?”


“Nggak ketemu, Nduk. Hampir setiap hari Papa pergi ke sana, berdiri berjam-jam namun Si Engkoh tidak juga muncul. Akhirnya Papa pasang iklan di koran supaya bisa ketemu tapi sampai detik ini belum tercapai.”


“Kasian ya engkoh itu…” Saya bergumam setulusnya.


“Sampai hari ini Papa masih berharap semoga Allah suatu hari bisa mempertemukan Papa dengan orang itu untuk menyelesaikan urusan hutang piutang ini,” kata Papa dengan nada gundah.


Ada lagi suatu peristiwa heroik yang dilakukan oleh Papaku ini. Peristiwa itu adalah peristiwa Malari di tahun 1974. Kerusuhan ini mengakibatkan banyak korban tewas dan luka-luka serta sejumlah gedung rusak terbakar. Sekelompok massa merusak dan membakar sejumlah gedung. Tercatat 11 orang meninggal dunia, 807 mobil dan motor produk Jepang luluh lantak dibakar massa, 300 orang luka-luka, 144 buah bangunan rusak berat

Suasana di sana sangat menyeramkan. Polisi dan tentara membuat pagar betis untuk membatasi ruang gerak para pendemo. Entah kenapa setiap kerusuhan terjadi, etnis Tionghoa selalu ikut dijadikan sasaran. Seorang teman Papa keturunan Tionghoa terjebak dalam kerusuhan itu. Dia adalah Om Edward, salah seorang sahabat karib Papa.


Dengan berbekal sebuah pisau belati, Papa menerjang pagar betis pasukan keamanan. Mulanya polisi menghalangi Papa karena suasana sudah tidak terkendali sehingga Papa bisa membahayakan dirinya sendiri.


“Saya harus menyelamatkan teman saya yang terjebak di sana. Dan saya tidak peduli apapun risikonya. Pokoknya teman harus ditolong!” bentak Papa ngotot.


Melihat niat Papa yang begitu keras akhirnya polisi membiarkan Papa menorobos pagar betis dan masuk ke dalam kancah kerusuhan yang sangat mengerikan tersebut. Bau asap dari gedung-gedung yang dibakar, teriakan para pendemo dan penjarah sama sekali tidak menyurutkan tekad Papa. Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, Papa kembali dengan membawa Om Edward bersamanya. Alhamdulillah…


Roda kehidupan terus berjalan. Gusti Allah mboten sare. Kegigihan Papa dalam berjuang mulai menampakkan hasilnya. Om Darmawan, pemilik perusahaan rekaman Yukawi yang berdomisili di Bogor mempercayakan Papa untuk mengelola perusahaannya. Papa kembali bermusik. Dia membuat banyak album. Di samping itu, dia juga mengorbitkan banyak band dan penyanyi, seperti No Koes, No Bo dan Kembar Group. Papa juga adalah orang di balik suksesnya beberapa penyanyi terkenal seperti Chicha Koeswoo, Usman Bersaudara dan Rhoma Irama. Begitu diperhitungkannya Papa sebagai pencari bakat sampai Papa berani berkata, “Kalau saya datang dengan sebuah ide, tidak ada seorang pun produser rekaman yang berani menolak tawaran saya.”


Buat saya Papa begitu luar biasa. Dia tidak hanya memberi nasihat tapi juga memberi contoh konkrit tentang pembelajaran hidup. Di usia saya yang menginjak 50 tahun sekarang ini, saya baru menyadari bahwa apa yang harus kita berikan pada anak-anak kita bukanlah uang dan harta. Yang perlu kita wariskan pada keturunan kita adalah wisdom kita. Buat saya Nomo Koeswoyo bukan hanya seorang ayah. Buat keluarga kami, Papa adalah seorang pahlawan sesungguhnya. I love you, Papaku.


Selamat Hari Pahlawan teman-teman.

0 tampilan

Chicha Koeswoyo 

Caleg DPR RI PDI Perjuangan

Dapil Jakarta Timur Nomor Urut 4

Dulu Penyanyi Anak, Kini Peduli Anak

Email: una@chichakoeswoyo.com

Jl. Pusdiklat Depnaker No. RT 014/06 Makassar, Kota Jakarta Timur Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Warung Chicha

© 2018  Chicha Koeswoyo Personal Website By Kawan Chicha

  • Instagram - White Circle
  • Facebook - White Circle
  • Twitter - White Circle
  • YouTube - White Circle
  • Google+ - White Circle
  • Pinterest - White Circle