Politik bukan Kebetulan

Tidak ada kebetulan di dalam hidup ini. Semua terjadi berkat kehendak Yang Maha Kuasa. Manusia hanya menjalankan skenario sesuai peran masing- masing.

Prinsip itulah yang jadi pegangan Mirza Riadiani Kesuma –nama lengkap Chicha Koeswoyo– saat memutuskan terjun ke dunia politik. Anak pertama Nomo Koeswoyo, musisi legendaris Tanah Air dan mantan personel Koes Bersaudara/Koes Plus ini percaya, takdirnya ke dunia politik bukan sebuah kebetulan. Chicha menyebut bimbingan Tuhanlah yang membawanya melangkah ke sana.


Kini Chicha bukan lagi penyanyi cilik seperti saat ia dikenal publik era 1970-an hingga 1980-an. Di usianya yang ke-50 tahun, Chicha memutuskan memasuki babak baru dalam kehidupannya. Ia ingin berguna bagi banyak orang dengan memasuki panggung politik.


Perempuan kelahiran Jakarta, 1 Mei 1968, ini calon anggota legislatif (caleg) DPR RI dari PDI Perjuangan yang bertarung di daerah pemilihan (Dapil) 1 DKI Jakarta.

Di sela kesibukannya turun ke masyarakat dan berkampanye, wartawan HARIAN NASIONAL berkesempatan mewawancarai di rumahnya di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat 2 November 2018.


Kepada Arif Rahman, Yossy Mawarni, dan pewarta foto Bayu Indra Kahuripan, ibu dua anak itu menuturkan kehidupan barunya sebagai politisi.



Chicha Koeswoyo. Politikus dan Pekerja seni


Apa yang membuat Anda terjun ke politik?

Saya percaya semua sudah ada yang mengatur. Mungkin kalau tawaran (masuk politik) itu datang pada saat usia saya 30-an atau 40-an, saya tidak akan mengambilnya. Justru saat usia sekarang ini, saya merasa berani, yakin, dan percaya diri. Keputusan itu datang setelah saya berkonsultasi dengan keluarga, suami, dan anak-anak. Saya kemudian istikharah berkali- kali lalu datanglah kebulatan tekad itu.


Apa arti politik bagi Anda?

Bagi saya, masuk politik adalah sebuah proses kematangan saya sebagai manusia, sebagai seorang ibu, sebagai istri, dan sebagai orang yang pernah sangat dikenal masyarakat. Sebelumnya saya menjalani berbagai kegiatan dan pekerjaan hingga berinteraksi dengan banyak orang yang pada intinya menyibukkan diri.

Apa yang Anda pikirkan saat ditawari masuk politik?

Saat tawaran masuk politik datang, yang pertama terpikirkan adalah saya bisa melakukan apa? Secara pribadi, kehidupan saya sudah “selesai”. Artinya, panggung (dunia hiburan) sudah saya dapatkan, keluarga dan anak- anak tuntas. Saya juga pernah menggeluti dunia profesional hingga dunia bisnis.

Saya tidak akan muluk- muluk menjawab ingin berbuat bagi rakyat. Semua politisi pasti menjawab seperti itu, tapi nurani saya mengatakan, saya bisa berbuat banyak untuk kaum perempuan dan anak-anak.


Siapa yang menjadi role model Anda dalam berpolitik?

Ya, saya memang baru, tapi saya kenal politik sudah lama. Anda tahu siapa yang mengajarkan politik kali pertama kepada saya? Itulah papa saya (Nomo Koeswoyo). Beliau dekat sekali dengan orang-orang kecil. Mungkin banyak yang tidak tahu, papa saya pernah menjadi sopir bemo setelah mengundurkan diri dari Koes Bersaudara dulu. Ketika itu kehidupan ekonomi keluarga kami sempat susah karena papa jobless.

Papa itu dekat dengan masyarakat bawah karena pernah di “bawah” menjadi sopir bemo. Perlahan papa berhasil mengangkat kehidupan keluarga karena beliau memang orang yang gigih. Papa jadi makelar, mulai dari jual motor, jual bemo, sampai jual mobil. Namun, pelajaran penting dari papa adalah beliau tidak lupa akarnya. Saat punya rezeki, papa selalu berbagi. Itu yang ditularkan kepada kami.


Apa pertimbangan sehingga memilih masuk PDI-P?

Di dalam politik tentu “berbagi” itu bisa dimaknai lain. Saya juga tidak mau terkena masalah, tapi politik itu artinya Anda punya kekuatan untuk menolong banyak orang lewat tangan kebijakan. Dulu, papa pernah mengajak saya main ke daerah Pecenongan sana. Di situ papa kerap nongkrong waktu jadi sopir bemo. Di situ juga papa kenal banyak masyarakat bawah dan di situ pula papa punya kenalan orang-orang yang ingin membeli kendaraan dari beliau. Papa kemudian bertanya, apakah saya bisa membantu orang-orang seperti ini? Belakangan saya mulai paham konsep papa ini mirip PDI-P sebagai partai wong cilik.


Apa peran keluarga terhadap keputusan Anda masuk politik?

Suami saya orang yang paling menentukan keputusan saya masuk politik. Beliau memberikan dukungan penuh, tidak hanya moral dan spiritual, tapi juga bantuan apa pun. Suami mentor saya dalam berpolitik. Beliau mengatakan kepada saya, “Masuk politik bukan berarti kamu seperti Depsos (Kementerian Sosial), rajin memberi bantuan, tapi bagaimana kamu berbuat banyak lewat kebijakan.” Suami meminta saya lebih banyak kerja ketimbang banyak omong. Kata dia, itulah politik sebenarnya. Saya diminta berhati-hati. Saya diminta sabar, tidak cepat bereaksi dan yang paling penting selalu hadir di tengah masyarakat. Di sini saya kemudian berpikir bahwa papa yang menanamkan konsep kepada saya bagaimana dekatnya kita dengan wong cilik, tapi suami kemudian menyempurnakannya lewat saran dan nasihatnya.


Bagaimana dengan anak- anak?

Kedua anak saya kini tengah berada di Amerika Serikat. Yang satu kuliah dan yang satu lagi high school di Marymount University California. Anda tahu apa tanggapan pertama mereka ketika saya beri tahu masuk politik dan jadi caleg PDI-P? Jawabannya satu kata, amanah.

Putri saya bilang begini, “Mama jangan sampai seperti yang di TV itu ya, masuk penjara karena korupsi.”

Putra saya lebih rasional, dia mengatakan, “Are you sure?” sambil bertanya mama harus menjadi pribadi yang berkualitas kalau ingin berbuat bagi banyak orang. Argumentasi anak saya sangat luar biasa untuk hal ini. Kita tahu anak milenial sekarang lebih kritis dan rasional.

Tentu Anda harus siap dengan konsekuensi dunia politik, dari serangan lawan politik hingga fasilitas yang didapatkan kalau terpilih?

Saya tidak pernah memikirkan fasilitas atau keuntungan yang saya dapatkan ketika memutuskan jadi caleg PDI-P. Saya katakan, untuk ilmu politik, saya akan belajar dan I’m a fast learner, termasuk konsekuensinya. Saya ikuti semua pendidikan kader partai. Saya sering menginap di luar rumah karena saking ingin belajar politik. Semua orang tentu ingin menang dan duduk di parlemen, tapi keputusan saya sudah bulat dan sekarang tinggal berjuang. Mudah- mudahan saya bisa mampu menghadapi tantangan di politik.


Sejauh ini bagaimana kampanye Anda?

Alhamdulillah, selama tiga bulan terakhir saya sudah kunjungan ke tokoh-tokoh masyarakat di dapil saya. Saat ini saya juga sudah rutin turun ke lapangan. Itu bisa sampai empat kali dalam sepekan. Konsep ini saya dapatkan dari papa. Beliau mengatakan saya harus sering hadir di masyarakat bawah. Arti kehadiran itu jauh lebih penting karena saya ingin tahu bagaimana situasi dan keluhan mereka. Hadir di saat mereka susah dan mendengar jauh lebih baik ketimbang Anda berpesta yang hilang dalam sekejap ketika pesta selesai.

Kemudian ketika saya masuk ke dapil, saya belajar banyak. Bagi saya, dapil seperti universitas baru di hidup saya karena saya benar-benar merasakan hidup sebagai wong cilik. Saya katakan kepada masyarakat, niat saya datang dari nurani dan tidak semata tugas dari DPP (Dewan Pimpinan Pusat PDI-P). Saya membawa ketulusan sebagai manusia biasa dan saya meminta pelajaran kepada masyarakat bahwa saya datang membawa prinsip gotong royong. Saya ibu dari dua anak, saya istri yang mengurus belanja rumah, dan saya berniat membantu ibu-ibu dalam membesarkan anaknya.


Kalau nanti Anda terpilih dan masuk parlemen, Anda ingin di komisi apa?

Sebagai kader saya harus patuh terhadap perintah dan arahan partai. Saya tidak akan meminta, tapi kalau disuruh memilih, saya akan kembalikan ke partai. Artinya, mau (komisi) VIII, IX, atau X, saya siap. Yang jelas, ibu dan anak concern saya. Kebudayaan dan pendidikan juga concern saya. Setiap kader tentu harus siap sedia kan.


Cara manage diri dalam kehidupan sebagai seorang perempuan?

Makanya saya percaya banget, semua itu sudah ada yang mengatur. Kok tepat di usia saya yang sudah segini, yang sangat sudah bisa me- manage mana yang penting mana yang tidak penting, dan mana hal yang harus digunting. Jadi begitu nomor 1, kita sebagai umat Muslim kalau kita percaya, segala sesuatunya akan lebih mudah.

Ada hal yang tiba-tiba harus pergi sudah senang, sudah excited, tapi di rumah berantakan. Untungnya gara- gara itu semua akhirnya suami jadi lebih mandiri, yang tadinya dikit-dikit harus diladenin. Namun, akhirnya, ya semua tepat pada waktunya. Mungkin kalau umur 30-an akan berantakan sekali. Sekarang suami juga kalau mau makan, tapi makanan kurang cocok, tinggal pegang handphone lalu Go-Food. Aku mengalami apa yang orang lain alami, antara anak, antara suami, antara rumah tangga, antara obsesi diri, tapi pada saat kita bisa me-manage itu semua dengan baik, insya Allah lancar semuanya. Malah kadang-kadang sekarang aku pulang, sudah disiapin makan sama suami. Makanya, kalau apa pun yang menyangkut keluarga, keluarga nomor satu untuk saat ini. namun, beda cerita kalau di politik, kita kan petugas yang mewadahi aspirasi orang.


Perempuan saat ini sangat powerful. Menurut Anda?

Sangat, sangat iya. Bukan hanya sekarang, di era dulu juga. Makanya ada kalimat bilang, “Di balik lelaki yang kuat, di situ pasti ada perempuan yang hebat.” Setop galau-galau, setop mikirin suami mau punya bini lagi. Hal-hal yang kaya gitu, cut the drama, do something yang membuat lu happy, memfokuskan diri otomatis semuanya akan ikut fokus. Ibarat kapal kalau kita nggak fokus, semuanya oleng.


MIRZA RIADIANI KESUMA (CHICHA KOESWOYO)

LAHIR: JAKARTA 1 MEI 1968 | AYAH: NOMO KOESWOYO | IBU: FATIMAH FRANCISCA | SUAMI: ANDI INDRA KESUMA | ANAK: ANDI KINAYA PUTRI; ANDI RAHMAT AQIL KESUMA | SAUDARA: REZA WICAKSONO KOESWOYO; HELLEN KOESWOYO | PROFESI: AKTRIS, PENYANYI CILIK ERA 1980-AN


Penulis : Arif Rahman, Yossy Mawarni

Pewarta foto : Bayu Indra Kahuripan

*Artikel ini telah tayang di Harian Nasional dengan judul "Politik bukan Kebetulan", edisi Sabtu-Minggu, 24-25 November 2018.

0 tampilan

Chicha Koeswoyo 

Caleg DPR RI PDI Perjuangan

Dapil Jakarta Timur Nomor Urut 4

Dulu Penyanyi Anak, Kini Peduli Anak

Email: una@chichakoeswoyo.com

Jl. Pusdiklat Depnaker No. RT 014/06 Makassar, Kota Jakarta Timur Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Warung Chicha

© 2018  Chicha Koeswoyo Personal Website By Kawan Chicha

  • Instagram - White Circle
  • Facebook - White Circle
  • Twitter - White Circle
  • YouTube - White Circle
  • Google+ - White Circle
  • Pinterest - White Circle