Chicha Koeswoyo 

Caleg DPR RI PDI Perjuangan

Dapil Jakarta Timur Nomor Urut 4

Dulu Penyanyi Anak, Kini Peduli Anak

Email: una@chichakoeswoyo.com

Jl. Pusdiklat Depnaker No. RT 014/06 Makassar, Kota Jakarta Timur Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Warung Chicha

© 2018  Chicha Koeswoyo Personal Website By Kawan Chicha

  • Instagram - White Circle
  • Facebook - White Circle
  • Twitter - White Circle
  • YouTube - White Circle
  • Google+ - White Circle
  • Pinterest - White Circle

Seri Perdana #CINTACHICHA


Cinta Chicha; Edisi Perdana

Kawan-kawan Chicha,

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Senang sekali malam ini, saya bisa bersua langsung, walaupun hanya lewat Live Texting, dengan kawan-kawan semua. Insya Allah, ke depannya kita bisa ngobrol lebih intens via "Live Streaming" ya.


Mulai malam ini, setiap Minggu pk. 20.00 s.d. 21.30, saya siap berdiskusi, ngobrol sama kawan-kawan semua, lewat sesi CINTA CHICHA (Cerita INspiratif Tentang Anak), yang semoga membawa berkah baik buat kita semua, terkhusus bagaimana kita mengelola anak-anak tercinta kita.


Kenapa saya tertarik mengetengahkan ini, karena 40 tahun lebih saya benar-benar intens berhubungan dengan dunia anak. Emosi dan energi saya rasanya sulit sekali lepas untuk memperhatikan dunia anak. Sedikit banyak, ini membuat saya dekat dengan seluk beluk pikiran mereka. Yang bagi saya sendiri, ini besar manfaatnya ketika saya tumbuh menjadi Ibu bagi 2 buah hati saya. Saya jadi memiliki bekal utuh untuk memahami dan membesarkan anak-anak saya.


Manfaat ini, yang ingin saya share dan diskusikan untuk kawan-kawan. Semoga menjadi perspektif lain yang memperkaya pengalaman kawan-kawan, yang tentu juga memiliki keunikan dan kebaikan masing-masing.


Sesi saat ini, saya ingin mengetengahkan, bagaimana Strategi Saya dalam Memahami Anak-anak. Saya beri tema: Menjadi Anak-Anak Kita


Menjadi Anak-Anak Kita


Kawan Chicha,


Sering banget terjadi ada gap dalam komunikasi antara ortu sama anak-anak. Gap ini yang menimbulkan kerap terjadi miskomunikasi. Dan ini, tentu, adalah awal dari masalah yang berpotensi lebih besar lagi.


Saya banyak menemukan kasus, yang ditemui beberapa teman Psikolog juga Hipnoterapis Anak. Problem kenakalan remaja, prestasi menurun, fobia pelajaran, akarnya malah ironik sekali, yaitu Rumah dan Sekolah. Rumah terkait Pola asuh. Sekolah terkait Pola Didik.


Teman psikolog dan hipnoterapis anak ini punya benang merah yang sama. Rata-rata, dalam pola asuh anak, orang tua kerap menerapkan prinsip: "Saya Ingin Anak Saya Mengikuti Apa yang Saya Mau".


Tentu tujuannya bagus. Orang tua sudah memiliki kerangka dan pengalaman panjang, sehingga tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tujuannya agar anak jalan lurus hanya menuju hal-hal baik. Itu benar.


Tapi apa yang terjadi?


Saya selalu ingat dan mengutip kata-kata Kahlil Gibran, yang bener-bener menohok pikiran terdalam saya:


"Anak-anakmu, bukan anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu pada dirinya sendiri. Mereka terlahir melalui engkau, tapi bukan dirimu. Meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu. Pada mereka, kau bisa memberikan cintamu. Tapi bukan pikiranmu. Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri."


Apa yang dibilang Gibran ini sesuai fakta. Pola asuh yang menggiring anak untuk melakukan sesuatu sesuai kehendak ortu, malah banyak menuai masalah.


Anak-anak itu unik. Hidup dengan karakter tersendiri, dan lahir pada zaman yang berbeda. Itu sebabnya, mereka selayaknya memiliki otonomi untuk menentukan arah diri. Tugas kita adalah menjadi jembatan, tempat mereka meniti, berjalan pada cita-cita besarnya. Dan tentu, jembatan yang kita bangun adalah jembatan kokoh yang memahami setiap derap langkah mereka.


Maka saran saya, mulai DETIK ini, bila ada prinsip pola asuh seperti di atas: "Saya Ingin Anak Saya Mengikuti Apa yang Saya Mau", layak kita ganti segera menjadi: "Saya Ingin Saya Paham Apa yang Anak Saya Mau."


Sampai sini setuju?

Alhamdulillah... :-)


Kita lanjut.


Nah, bagaimana cara memahami anak? Bagaimana cara mengetahui karakter anak? Ini yang wajib kita kuasai skill-nya. Saya beri sedikit bocoran ya, strategi saya dekat dengan anak-anak. Ini nggak cuma saya praktekkan pada anak-anak saya. Tapi juga pada teman-teman anak saya, sehingga kalo Kawan-kawan tahu, saya dekat sekali dengan beberapa teman anak-anak saya. (Puji syukur alhamdulillah, ini juga berkah besar buat saya).


Tekniknya sangat sederhana. Tekniknya sudah saya tulis di judul materi ini, yaitu: MENJADI ANAK-ANAK KITA.


Bagaimana caranya? Nah ini perlu pengetahuan teknis.


1. Ketahui karakter dasarnya. Kalau dalam bahasa Neuro Linguistic Programming (NLP), ketahui submodalitasnya. Identifikasi, apakah anak-anak kita karakternya "Visual", "Audio", "Kinestetik" (aspek indra rasa dan geraknya), "Olfactory" (aspek penciumannya), atau "Gestatory" (aspek indra pengecapnya).


Saat kita tahu karakter anak kita yang mana, kita akan paham bagaimana memperlakukan anak kita. Misal, anak Audio, biasanya lebih nyaman belajar dengan mengeksplorasi elemen audio, apakah dengan diiringi musik, dalam suasana sepi, dll.


Anak-anak Visual lebih suka membaca, dengan melihat peraga, dll. yang terkait mata. Anak Olfactory mungkin belajar dengan ditemani harumnya aroma terapi dll. Anak Gestatory mungkin belajar sambil ngunyah, ini yang paling asik ya, hehehe... Anak Kinestetik barangkali di tengah hembusan udara segar, atau sambil bergerak ekspresif, dsb.


Terus, Mba Chicha, bagaimana cara mengenal mereka itu tipe apa?


Gampang. Kawan-kawan bisa berdiskusi dengan psikolog, atau melakukan langkah sederhana yang kita bisa lakukan di rumah. Misal, minta anak kita bicara dalam 1 menit. Atau menulis dalam 1 paragraf. Lebih panjang tentu lebih bagus. Dari sini kita akan tahu, mereka masuk tipe mana.


Kalo mereka banyak mengekplorasi kata-kata "Bayangkan", "aku lihat", "bentuknya", "dekat", "jauh", "air", "gunung" dan semua yang berhubungan dengan mata, maka dia masuk Tipe "Visual".


Kalo anak kita, sering menyebut kata-kata bernada audio, seperti: "Mom, aku DENGERIN SUARA Momi bagus"; "BERISIK banget ya"; "SEPI amat"; udah jelas, masuk ke Tipe "Audio".


Kalo anak biasa mengekslorasi kata-kata kaya: "RASAnya nggak begitu deh Mom"; "Aih GATEL banget"; "Dia LINCAH ya Mom"; "Nilai saya MELESAT jauh"; ini sudah pasti tipe "Kinestetik".


Kalo anak biasa bilang: "Wooow WANGI"; "SEGER banget ya"; dan sejenisnya, dia pasti tipe "Olfactory".


Kalo anak kerap lebih banyak mengekplorasi kata-kata yang bersinggungan dengan taste lidah, seperti: "Enak banget ya duduk di sini"; "Kalo udah denger nasihat Momi, GURIH deh hidup aku"; "PAHIT banget ya hidupnya"; tipe anak ini mungkin "Gestatory".


Nah, untuk kita dekat dengan anak kita, untuk kita bisa menyelusuri jauh apa yang mereka rasakan, untuk membuat mereka nyaman, kita juga mesti bicara sesuai dengan tipe mereka. Eksplor kata yang selaras dengan karakter mereka. Karena mereka hidup, dengan cara mereka.


2. Cara kedua, berkomunikasilah dengan CARA mereka; dengan GESTUR tubuh mereka; dengan HOBI mereka. Ini yang dinamakan Mirroring (meniru). Hukumnya, setiap manusia memang bakal merasa nyaman dan dekat ketika dia berada di lingkungan yang sama. Begiu juga anak-anak kita.


Kalo anak kita, misal, bicara dengan kita sambil sering mengetuk-ngetukkan jarinya di atas dengkulnya, ikuti tanpa sepengetahuannya. Maka kita berarti sudah membangun kesamaan dengan dia. Efeknya, mereka merasa dekat dan nyaman.


Kalo anak kita hobinya membaca komik-komik Marvel, maka baca dan bicara tentang komik kesukaannya. Maka anak tanpa sungkan akan nyaman bicara tentang apapun dengan kita.


Fokus pada kesamaan, sehingga pada akhirnya, kita bisa mengarahkannya. Jangan bangun perbedaan yang sifatnya depensif, karena ini akan membangunkan daya tolak anak. Walau kita tidak setuju de anak kita, awali dengan kalimat seakan kita setuju, lalu tawarkan alternatif-alternatif pilihan yang lebih baik.


Di dalam ilmu psikologi, ini yang dinamakan pacing leading. Upaya menyamakan frekuensi dengan anak, untuk terbangun kedekatan.


Begitu Kawan-kawan, trik mudah yang biasa saya gunakan dalam mengelola dan memahami jalan pikir anak. Dengan strategi ini, insya Allah, miskomunikasi bisa di-atasi.


Dua trik tadi, hanya salah satu dari bagaimana kita membangun jembatan yang kuat, yang nyaman bagi mereka melangkah, yang mengantarkan mereka pada cita-cita mereka.


***

6 tampilan