Sharing Ke-10 #CINTACHICHA. Bila Anak Anda Marah

Diperbarui: 30 Nov 2018


Sharing Ke-10 #CINTACHICHA. Bila Anak Anda Marah

INTRO Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kawan-kawan, apa kabar malam ini? Semoga senantiasa baik untuk semua urusan kita ya. Aaamiiin.


Topik sharing kali ini, saya akan mengetengahkan trik yang mungkin berguna sesekali kita pakai, untuk mengatasi ekspresi "Bila Anak Kita Marah, Sedih dan Takut." Topik ini melanjutkan topik kita di minggu lalu yaitu "Mengenali 20 Problem Anak"

BILA ANAK ANDA MARAH

SETIAP orang tua pasti pernah mengalami keadaan ketika anak marah. Entah terlihat dari ekspresi wajahnya yang kecut. Entah dalam bentuk dia mogok melakukan apapun. Atau dalam wujud yang lebih agresif, seperti menangis, mengeluarkan kata-kata bernada tinggi, memaki, bahkan melakukan aktivitas fisik yang kasar.


Sikap orang tua pun beragam. Ada yang sabar dan berusaha menasihatinya. Ada yang cuwek dan mendiamkannya. Ada juga sekali waktu malah balik kesal dan memarahinya.

Apapun sikap kita, yang jelas selayaknya harus disadari bahwa marah adalah reaksi emosional kuat sebagai akibat dari adanya ancaman, kekecewaan, frustasi dan perasaan tak menyenangkan lainnya. Dengan memahami perasaan marah sebagai sebuah reaksi, maka orang tua akan lebih bijak dalam menyikapinya. - CARI TAHU MENGAPA ANAK MARAH

Perasaan marah, bila tidak dikelola dengan baik akan sangat kontraproduktif dengan perkembangan anak, baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik, rasa marah terindikasi dengan percepatan detak jantung dan pola nafas, yang kalau ini terjadi berulang kali dan terus menerus, tentu tidak baik efeknya.


Secara psikis, perasaan marah memiliki implikasi negatif, seperti merangsang agresivitas anak, membuatnya murung, malas, tidak fokus, dan sebagainya.


Dengan demikian, sebagai orang tua yang bijak, kita harus secepatnya menelisik apa yang menjadi penyebab anak kita marah. Ajak ia bicara dengan tenang. Ada yang merasa membuatnya tak amankah? Ada kekecewaankah? Merasa frustasikah? Tertekankah? Atau ada hal-hal lain yang membuatnya tidak nyaman.

Setelah kita tahu penyebabnya apa, kita akan lebih mudah mencari solusinya.


TRIK MENGHADAPI ANAK MARAH

Berkomunikasi dengan anak yang sedang kesal atau marah, tentu perlu trik tersendiri. Daya tolak mereka biasanya sangat besar. Salah-salah, rasa kesalnya malah semakin menjadi-jadi.


Pertama, kita harus menjalin hubungan yang baik (building rapport) dengan anak. Bangunlah kesamaan antara kita dan anak. Hakikat manusia akan merasa lebih dekat dan nyaman dengan sesuatu yang memiliki kesamaan dengannya. Amati indikasi-indikasi pada anak, baik bahasa, cara gerak bahkan pola nafasnya. Lakukan mirroring. Biarkan kita berbahasa, bergerak dan bernafas sepertinya. Tunjukkan, topik pembicaraan atau hobi yang disukainya seakan kita sukai juga. Posisikan bahwa kita pun pernah mengalami hal yang sama dengannya. Kita memiliki persepsi yang sama dengannya. Sehingga masalah dia adalah masalah kita. Pikiran bawah sadar anak akan menangkap, bahwa kita berada pada frekuensi yang sama dengannya. Komunikasi pun menjadi jauh lebih lancar.


Kedua, gunakan teknik pacing-leading. Terima apapun yang anak kita utarakan. Jangan membangun penolakan. Karena hakikat lain dari manusia adalah selalu ingin merasa diterima. Eksplorasi kata-kata “iya”, “betul”, “Ibu/Ayah ngerti banget”, “tepat sekali”, dan hindari kata-kata “tidak”, “jangan”, atau “salah tuh”. Ketika anak kita sudah merasa dipahami dan diterima, maka kita akan jauh lebih mudah dalam berkomunikasi, menyisipkan sugesti bahkan perintah yang kita inginkankan.


TIP MENGELOLA RASA MARAH

Hal yang paling penting saat anak marah adalah, menetralkan emosinya. Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk mengelola kemarahan anak tersebut.

  1. Relaksasi. Saat marah, gerak nafas dan jantung anak begitu cepat. Karena itu, bimbing ia untuk rileks. Suruh ia tarik nafas lewat hidung, dan sugestikan, anak kita seperti menyerap semua energi positif di sekelilingnya. Setelah itu, suruh ia menghembuskan nafasnya lewat mulut dengan perlahan. Sugestikan, bersama hembusan nafasnya, ia lebih rileks, buang kemarahan, kecemasan, kekesalan, sehingga yang ada adalah rasa lega dan nyaman. Lakukan proses ini hingga 3 KALI atau lebih. Tentu dengan cara cara dan bahasa yang biasa kita lakukan pada anak kita ya, jgn formal, malah jadi aneh nantinya.

  2. Cara lain, Blow the Ballon. Ajak anak kita meniup balon pelan, sambil membayangkan, ia mengeluarkan seluruh rasa marahnya. Saat momen narik nafas, sugestikan perasaan nyaman masuk lewat hidungnya. Tiup lagi balon hingga membesar, dengan sugesti yang sama. Saat balon sudah besar, minta anak Anda meletuskan balon itu, dan bersama letusan, sugestikan rasa marah si anak pun pecah dan lenyap.

  3. Subconscious writing. Minta anak menuliskan kekesalan dan kemarahannya dalam secarik kertas. Tumpahkan apapun kata-katanya. Lalu bila sudah, minta anak untuk membakarnya hingga jadi abu. Inilah bentuk katarsis (pelepasan emosi) yang sehat. Jangan pernah membiarkan anak menuliskan kekesalannya lewat media jejaring sosial. Karena kekesalan itu adalah energi negatif, yang selain menjadi do’a buatnya, juga akan menular bagi orang yang membacanya.

  4. Reframing (membingkai ulang persepsi anak). Ubah nilai emosi negatif dari masalah anak Anda menjadi positif. Caranya, minta anak untuk menyebutkan 3 hal negatif yang diakibatkan dari masalahnya. Setelah itu, minta anak menyebut 5 atau lebih sisi positif dari masalah itu buat dirinya. Hal ini akan secara otomatis membuat emosi anak netral, bahkan mengarah menjadi power bagi potensi dirinya.

  5. Lakukan teknik Chopper View (seperti memandang diri sendiri dari atas). Ajak anak bermain, seakan ia keluar dari dirinya, terus naik ke atas dan melihat tubuhnya ada di bawah, lengkap dengan masalah itu. Cara ini saja, sudah efektif memisahkan emosi anak dengan kemarahan yang dirasakannya. Ajak si anak menilai dirinya yang ada di bawah, dan minta pendapat, apa yang seharusnya ia lakukan.

Langkah-langkah tersebut, selain efektif, juga mendidik anak menjadi partisipan aktif dalam mengelola emosinya sendiri. Bukan kita sebagai orang tua yang mencekokinya solusi, tapi bisa jadi, anak kita sendiri yang menemukan jawabannya.


Selamat mencoba yaaa...

***

PENUTUP Demikian Kawan-kawan. Bila sudah ada pertanyaan atau ada ide urun saran, silakan tulis langsung saja di COMMENT ya.


Matur nuwun. Wassalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


CHICHA KOESWOYO

#chichaisback #CHIldrenCHAracter #DuluPenyanyiAnak #KiniPeduliAnak

0 tampilan

Chicha Koeswoyo 

Caleg DPR RI PDI Perjuangan

Dapil Jakarta Timur Nomor Urut 4

Dulu Penyanyi Anak, Kini Peduli Anak

Email: una@chichakoeswoyo.com

Jl. Pusdiklat Depnaker No. RT 014/06 Makassar, Kota Jakarta Timur Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Warung Chicha

© 2018  Chicha Koeswoyo Personal Website By Kawan Chicha

  • Instagram - White Circle
  • Facebook - White Circle
  • Twitter - White Circle
  • YouTube - White Circle
  • Google+ - White Circle
  • Pinterest - White Circle