Sharing Ke-4 #CINTACHICHA. Menanamkan Konsep Hidup pada Anak.

Diperbarui: 30 Nov 2018


Sharing ke-3 Cinta Chicha. Menanamkan Konsep Hidup Pada Anak.

Kawan Chicha,

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Apa kabar semuanya? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.


Alhamdulillah. Saat ini kita ketemu lagi di sharing reguler CINTA CHICHA (Cerita INspiratif Tentang Anak), yang saya selenggarakan tiap Minggu Malam, pukul 20.00 s.d. selesai.


Untuk minggu ini, saya ingin mengulas tentang pentingnya kita MENANAMKAN KONSEP HIDUP PADA ANAK, dalam kegiatan real.


MENANAMKAN KONSEP HIDUP PADA ANAK


Kawan Chicha yang baik.

Perilaku anak, yang kemudian dibawa pada kehidupan masa dewasanya, sangat dipengaruhi oleh dua aspek ini: Pola Asuh, yang diterapkan di rumah; dan Pola Didik, yang diterapkan di sekolah.


Pihak sekolah sendiri menyadari, bahwa sekolah tidak berdiri sendiri dalam menyelenggarakan proses pendidikannya. Tapi perlu pendampingan orang tua. Itulah sebabnya di sekolah ada Komite Orang Tua.


Di rumah, saya yakin, setiap orang tua juga punya pola sendiri dalam mendidik budi pekerti anaknya. Tentu diselaraskan dengan agama dan kearifan budayanya masing-masing. Di sebagian keluarga, anak tiba-tiba punya setumpuk jadwal yang ketat. Kegiatan mengaji, kursus musik, bimbel, kursus renang, dll.


Semua ini bagus sepanjang sesuai dengan kebutuhan anak kita. Selain memang membekali anak dengan kegiatan life skill yang sangat bermanfaat nanti buat hidupnya, soft skill anak juga terasah. Anak mulai diperkenalkan dengan bagaimana pentingnya mengelola waktu, disiplin, membuat skala prioritas, kompetisi, kolaborasi, dan semua hal baik yang mereka bisa dapat langsung ataupun tidak langsung dari seabrek kegiatannya ini.


Persoalannya, mengapa dalam kehidupan real orang-orang dewasa saat ini, yang notabene dulunya mereka adalah anak-anak yang juga diajarkan tentang konsep hidup, tentang prinsip benar dan salah, tentang mana yang boleh dan mana yang tidak, malah banyak yang kemudian melanggarnya?


Kenapa ada orang bawa motor lewat trotoar? Bawa mobil di tol dengan menerabas bahu jalan? Menyalip antrian? Bahkan yang lebih parah, bersentuhan dengan hukum pidana?

Memang banyak faktor kompleks yang memengaruhinya. Tapi saya hanya ingin mengulas yang berhubungan dengan pola asuh anak, topik kita malam ini. Yang kebetulan saya punya pengalaman sebagai seorang Ibu dalam mendidik anak-anak saya.


Menurut saya, konsep hidup itu bukan diajarkan. Tapi kita tanam dengan didikan. Konsep hidup itu bukan isinya nasehat-nasehat verbal hidup itu mesti begini, begitu, begini dan begitu. Tapi usaha orang tua untuk melibatkan langsung anak ke dalam realitas kehidupan.


Kita bisa mulai dari hal-hal kecil. Misalnya, sejak bayi, membiasakan anak, makan itu mesti duduk hingga makan selesai. Bisa saja, saat sedang makan, bayi kita kemudian merangkak ke mana-mana, kita kembalikan lagi ke tempat saat dia makan. Saat si anak merangkak lagi sesuai kerteraikannya pada hal lain, kita kembalikan lagi sampai proses makan selesai. Begutu seterusnya.


KONSISTENSI pola seperti ini, efeknya sangat kuat. Di benak anak akan tertanam, bahwa konsep makan itu sebaiknya duduk, tidak sambil mondar-mandir.

Bahwa pada saat dewasa nanti si anak kemudian makan sambil berdiri, sambil berjalan, atau jungkir balik, itu lain soal. Itu pilihannya sendiri. Itu otonomi diri dia yang memutuskan. Tapi yang penting sebagai orang tua, kita sudah menanamkan kesadaran pada benak terdalamnya (subconscious-nya), bahwa konsep makan itu seperti apa.


Begitu juga saat berkendara. Ketika kita merangkak di tol yang sangat padat, sementara di sebelah ada anak kita, tetaplah hanyut di dalam kepadatan tol tersebut. Walau di bahu jalan kosong, jangan pernah tergoda untuk menerabas bahu jalan di depan anak. Kenapa? Karena impact-nya berbahaya bagi konsep hidup anak. Anak akan menafsirkan, bahwa dalam kondisi tertentu, peraturan bisa diajak kompromi. Di momen tertentu, peraturan bisa dilanggar.


Ini sebabnya, banyak kita lihat di YouTube, orang yang bawa motor di trotoar, lebih galak dari orang yang mengingatkannya. Mereka merasa, kemacetan luar biasa bisa membuat peraturan longgar, dan dia merasa berhak untuk melanggar.

Ketidak-konsistenan pola asuh bisa melahirkan chaos dalam pola hidup sosial yang lebih besar. Berbahaya, kan?


Menanamkan konsep hidup dengan mengajak anak kita langsung terlibat di dalam hidup itu sendiri, impactnya adalah terbentuknya karakter anak. Bukan sekadar pengetahuan anak.


Konsep berbagi, tidak diajarkan tentang berbagi itu apa. Tapi ajak anak untuk berbagi dan peduli pada sekeliling hidupnya. Konsep keselamatan berkendara, tidak kita ajarkan teknik berkendara yang baik itu seperti gimana, tapi libatkan anak di dalamnya. Selalu pakai seatbelt saat di mobil. Pakai helm saat naik motor. Bertutur kata sopan dalam kondisi apapun.


Kalau dalam situasi tertentu, di depan anak, kita keceplosan memaki-maki pengendara lain yang ugal-ugalan, misalnya, maka anak akan menapsirkan, bahwa memaki itu boleh, jika orang lain salah.


Kalau dalam situasi tertentu, kita kelepasan membuang sampah dari jendela mobil, karena di mobil tidak ada tong sampah, maka anak akan menapsirkan, membuang sampah sembarangan boleh dilakukan, saat situasi terpaksa.


Hal inkonsisten inilah yang akan mengacaukan konseptual hidup anak. Dan anak menjadi longgar.


Dengan demikian, 2 hal yang membuat anak akan memiliki konsep hidup yang kuat di masa depannya adalah:


1. Didik anak tentang konsep hidup tersebut. Mendidik berarti melibatkannya dalam kehidupan real, bukan sekedar mengajarkannya. Anak itu bukan pendengar yang baik, tapi peniru yang jenius. Begitu kata para ahli.

2. Tunjukkan konsistensi atas konsep hidup yang kita didik, tanpa kompromi. Apapun yang terjadi.


Insya Allah, dengan 2 hal ini, anak kita tumbuh menjadi anak yang memiliki karakter kuat.

*** PENUTUP

Demikian, Kawan Chicha, semoga bermanfaat.

Terima kasih sudah berkunjung di page ini, juga untuk partisipasinya.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


CHICHA KOESWOYO


#DuluPenyanyiAnak #KiniPeduliAnak #ChichaisB4ck #CalegDPRRI #DapilJakartaTimur

0 tampilan

Chicha Koeswoyo 

Caleg DPR RI PDI Perjuangan

Dapil Jakarta Timur Nomor Urut 4

Dulu Penyanyi Anak, Kini Peduli Anak

Email: una@chichakoeswoyo.com

Jl. Pusdiklat Depnaker No. RT 014/06 Makassar, Kota Jakarta Timur Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Warung Chicha

© 2018  Chicha Koeswoyo Personal Website By Kawan Chicha

  • Instagram - White Circle
  • Facebook - White Circle
  • Twitter - White Circle
  • YouTube - White Circle
  • Google+ - White Circle
  • Pinterest - White Circle