Sharing Ke-5 #CINTACHICHA. Anak-Anak dan Gadget

Diperbarui: 14 Nov 2018


Sharing Ke-5 #CINTACHICHA. Anak-Anak dan Gadget

INTRO


Kawan Chicha, Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Alhamdulillah, kita ketemu lagi di waktu yang baik ini, sharing reguler CINTA CHICHA (Cerita INspiratif Tentang Anak), yang saya selenggarakan tiap Minggu Malam, pukul 20.00 s.d. selesai.


Untuk malam ini, saya akan coba angkat usulan tema ANAK-ANAK dan GADGET, yang rupanya sangat mewakili kekuatiran orang tua.


ANAK-ANAK dan GADGET


Gadget, selain sudah menjadi bagian dari keseharian hidup kita, juga rupanya menjadi bagian dari kegelisahan para orang tua. Betapa tidak, saat ini, tak hanya orang dewasa yang tidak bisa lepas dari gadget. Tapi juga anak-anak!


Anak-anak bukan lagi dari anak yang sudah melek huruf dan ngerti bacaan cara kerja komputer atau HP, tapi bahkan anak-anak balita yang usianya baru 1 tahun, sudah akrab dengan gadget.


Saya banyak menemukan, anak umur 2 tahun sudah sangat fasih browsing YouTube, searching, lalu singgah di channel-channel favorite-nya, seperti Pinkfong! Kid's Songs & Stories, dll. Bahkan, dari channel ini dia browsing ke Channel-channel seperti Oddbods, karakter-karakter lucu dengan berbagai adegan lucunya.


Saya menemukan lebih dari 5 anak usia 2-3 tahun yang ekspresinya, cara bicaranya, menirukan persis karakter-karakter favorite-nya. Bahkan beberapa kalimat sapaan dalam bahasa Inggris mereka ucapkan dengan fasih.


Begitu juga dengan anak SD, SMP, SMA juga mahasiswa, saat ini sedang keranjingan games online, yang bisa dimainkan kapan dan di manapun, berjejaring dengan orang secara live, di seluruh dunia. Games-games populer antara lain Mobile Legend, League of Legend, PUBG, Arena of Valor, Clash Royale, Clash of Clans dan banyak lagi.

Bagaimana sikap kita, orang tua, terhadap anak-anak kita?


Yang harus kita pahami, gadget dan dunia digital adalah fakta yang tidak bisa dihindari. Anak-anak kita, yang lahir pertengahan 2000-an adalah anak-anak gadget. Generasi yang saat ini disebut Gen Z, yang memang dari pas brojol sudah melek gadget. Nggak heran bahkan anak umur 3 tahun sudah jauh lebih piawai browsing atau eksplor berbagai aplikasi daripada kita.


Setelah kita memahami bahwa ini adalah FAKTA yang tidak bisa dibendung, maka kemudian tugas kita adalah mengenali efek-efeknya, baik positif maupun efek negatif. Ketika kita sudah memahaminya, maka dengan mudah kita me-ngelolanya.


A. EFEK NEGATIF GADGET


Sebuah hasil penelitian yang diungguh Huffington Post menyebut setidaknya ada 10 Efek negatif bagi anak akibat dari pemakaian gadget berlebihan:

  1. Mengganggu Pertumbuhan Otak. Stimulasi berlebih dari gadget terhadap otak anak yang sedang berkembang, membuat keterlambatan proses kognitif, gangguan proses belajar, impulsif, bahkan tantrum

  2. Konsentrasi berlebih pada gadget membuat gerak tubuhnya terbatas, sehingga pertumbuhan anak terhambat

  3. Di Amerika, intensitas perhatian pada gadget menyebabkan meningkatnya obesitas sebesar 30%

  4. Akibat dari gadget, 75% anak usia 7-9 tahun mengalami kesulitan tidur

  5. Tahun 2010 ditemukan data, bahwa intensitas ketergantungan pada gadget menyebabkan anak mengalami depresi, cemas, berkurangnya atensi, dan gangguan psikologis lainnya

  6. Pengaruh konten yang tidak terkontrol, seperti banyaknya adegan kekerasan fisik dan kekerasan seksual di internet, menyebabkan meningkatnya perilaku agresif pada anak

  7. Dunia teknologi menyebabkan setiap orang terkoneksi dengan gadget. Relasi orang tua dan anak jadi berjarak, sehingga anak pun mencari pengisi ruang kosong dengan gadget. Hal ini yang menyebabkan terjadinya ketergantungan

  8. Pikun Digital. Kecepatan media digital membuat anak sulit konsentrasi pada satu titik. Mudah berpindah-pindah fokus sehingga ingatan menjadi pendek.

  9. Bahaya Radiasi. Imunitas anak berbeda dengan orang dewasa. Anak lebih rentan terpapar radiasi gadget dibanding orang dewasa. Dan pada tahun 2011, WHO menyebut, ponsel dan gadget dengan wirelss lainnya masuk ke dalam kelompok yang berisiko menyebabkan kanker

  10. Proses Belajar tidak Berkelanjutan. Kemudahan yang ditawarkan teknologi menyebabkan otak anak menjadi tidak terlatih dan terasah. Anak menjadi kurang suka melalui tahapan pembelajaran, dan lebih suka mencari jalan pintas.

B. EFEK POSITIF GADGET


Tentu hasil penelitian ini tidak saklek berlaku umum. Dan sangat tergantung pada kadar ketergantungan anak pada gadget. Sehingga, terlepas dari efek negatifnya, gadget juga menyimpan banyak manfaat buat anak.


Dari berbagi sumber, manfaat gadget antara lain:


  1. Memudahkan proses komunikasi dengan anak. Kita bisa dengan real time tahu kondisi anak, dan memantau keberadaannya aman

  2. Aplikasi dan games bila bisa terpantau dan terkendali, bisa jadi sarana pemebelajaran yang baik. Psikolog Ana Surti Ariani menyebut, games seperti Angri Birds jaman dulu, sejatinya memberi pelajaran hukum pegas dalam fisika pada anak.

  3. Mengasah Otak dan Strategi. Permainan-permainan seperti Mobile Legend, Arena of Valor dll., bila dilakukan dengan terkendali, sangat bisa dijadikan media melatih otak dan skill strategi anak

  4. Melatih team work sekaligus network. Games-games tadi karena bisa dilakukan berkolaborasi, sangat melatih anak untuk bekerjasama, sekaligus melatih menjalin relationship dengn orang-orang di luar lingkungannya.

  5. Peminatan terhadap gadget, membuka ketertarikan anak untuk menjadi teknolog, games atau application developer, bahkan atlet e-sport yang saat ini sudah menjadi wacana untuk dimasukkan di arena olahraga internasional. Banyak lagi manfaat lainnya, selain efek buruk dari gadget ini.


C. PASTIKAN TERKENDALI

Saya berpendapat, segala sesuatu bila dilakukan berlebihan, efeknya pasti buruk. Bila kita lakukan secara terkendali, penuh perhitungan, efek negatifnya insya Allah terkontrol. Bahkan kita malah bisa memetik manfaat baiknya. Begitu juga dengan gadget.


Anak-anak Gen Z tidak bisa terlepas dari gadget. Melarang anak-anak lepas total dari gadget sama saja dengan men-dzaliminya. Gadget menjadi semacam hukum alam yang dihadirkan zaman.


Yang harus kita lakukan adalah, mengelola, mewaspadai, dan mengendalikannya. Pastikan anak hanya mendapatkan manfaat baiknya, dan terhindar dari efek buruknya.

Untuk mengendalikannya, saya memiliki saran:

  1. Bikin aturan main, dan sepakati bersama. Ini akan melatih anak tentang pentingnya aturan main

  2. Bikin deal dengan anak, bahwa anak hanya boleh main games saat hari libur, dengan durasi tertentu. Gadget dan Games tidak boleh mengganggu aktivitas sekolahnya

  3. Hindari pemakaian gadget lebih dari 1 jam secara intensif. Ini untuk menghindari efek buruk pada mata anak. Sepakati jam berapa anak main, dan jam berapa anak harus lepas dari gadget

  4. Ketahui permainan apa yang diikuti anak. Kalau memungkinkan, ikuti dengan kita menjadi pemain di dalamnya. Sehingga kita bisa mengontrol perilaku dan relationship anak dengan partner gamers lainnya

  5. Bila memungkinkan, sertakan anak pada kursus-kursus yang terkait peminatan anak pada gadget. Misal, kursus menjadi games/application developer, kursus jadi web designer, dll.


Begitulah. Gadget dan games tidak selayaknya kita judge selalu bermuatan negatif. Saat anak menuai hal negatif, kita mesti merefleksikan diri, jangan-jangan semua terpulang pada cara kita menyikapinya.


D. MENYEMBUHKAN ANAK DARI PENGARUH NEGATIF GAMES


Bagaimana kalau anak kita cenderung sudah terpapar efek negatif games? Misal kalau sudah ADDICT alias ketergantungan?


Ketergantungan, berarti mental anak sudah terprogram dan terpola untuk melakukan sesuatu, dan menjadi bermasalah ketika ia tidak mendapatkannya. Cara menyembuhkannya adalah dengan memprogram ulang mentalnya.

Bila kondisinya masih sederhana, Kawan-kawan bisa memberi anak sugesti yang baik, di momen paling sugestif anak. Misalnya pada saat anak ngantuk menjelang tidur, hingga 30 menit pertama tidur. Itu adalah momen yang tepat untuk memprogram mental anak. Ini trik simpel yang biasa dilakukan ahli hipnoterapi.


Dengan lembut, belai ubun-ubunnya, sambil bisikkan di telinganya: "NAK, MULAI SEKARANG DAN SETERUSNYA, KAMU MULAI MENGURANGI MAIN GAMES. SAAT KAMU MULAI, KAMU SUDAH MERASA BOSAN, LALU BEBERAPA SAAT KEMUDIAN, KAMU MENGHENTIKANNYA KARENA SEMAKIN BOSAN DENGAN GAMES. KAMU SADAR, MAIN GAMES HARUS TERKENDALI. DAN KAMU SEMAKIN TERKENDALI. SAAT KAMU BERKEINGINAN MAIN GAMES, KAMU SEMAKIN SADAR, BAHWA MAIN GAMES HANYA SEBENTAR SAJA. KAMU LANGSUNG BOSAN, DAN MENGHENTIKANNYA. MULAI SEKARANG DAN SETERUSNYA, KAMU SEMAKIN TERKENDALI, DAN SEMAKIN BISA MENGENDALIKAN DIRI. YA, KAN NAK? IBU SAYANG SAMA KAMU."


Bila efek negatif gadget dan games dirasa sudah rumit, anak perlu di-recovery dan dibawa ke psikolog ahli. Namun sekali lagi, efek negatif dari gadget, sangat bisa dihindari, bila kita sebagai orang tuanya bisa mewaspadai.


PENUTUP

Demikian Kawan-kawan. Semoga menjadi alternatif pemikiran lain bagi kawan-kawan, dan semoga bermanfaat, bagaimana kita menyikapi gadget bagi anak-anak.


Terima kasih atas perhatian Kawan-kawan semua.

Wabillahi taufiq walhidayah. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh *

#ChichaisB4ck #DuluPenyanyiAnak #KiniPeduliAnak #CHIldrenCHAracter


*Tulisan ini dapat dibaca juga di Facebook page Chicha Koeswoyo

Link: https://www.facebook.com/chichakoeswoyo2017/posts/2223564234632391


13 tampilan

Chicha Koeswoyo 

Caleg DPR RI PDI Perjuangan

Dapil Jakarta Timur Nomor Urut 4

Dulu Penyanyi Anak, Kini Peduli Anak

Email: una@chichakoeswoyo.com

Jl. Pusdiklat Depnaker No. RT 014/06 Makassar, Kota Jakarta Timur Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Warung Chicha

© 2018  Chicha Koeswoyo Personal Website By Kawan Chicha

  • Instagram - White Circle
  • Facebook - White Circle
  • Twitter - White Circle
  • YouTube - White Circle
  • Google+ - White Circle
  • Pinterest - White Circle